Peraturan baru. Semua warga sekolah haru datang tepat waktu. Tidak boleh telat. Jika masih datang terlambat, silahkan berbaris di depan gerbang. Tak terkecuali guru atau siswa. Oke. Dan memang sudah seharusnya. Perubahan cuaca. Aku tadinya memang masuk kelas 4, kelas siang. Masuk pagi menjadi sedikit momok bagiku, takut telat. Aku bergegas pergi pagi. Kalau tidak sarapan pukul setengah enaman, tak akan sempat lagi sarapan. Biasanya waktu istirahat, aku pulang sebentar mengisi perut. Lumayan, menghemat anggaran. Aku membawa tas kecilku. Memang sudah wanti-wanti takut razia. Jadi SIM dan STNK kubawa. Disamping itu disana ada dompet dan telepon genggam. Mungkin nanti ada hal penting. Tibalah aku di simpang tinggi Hari. Ada polisi di kanan kiri jalan. Aku yakin pasti razia. Bebrapa kendaraan berbalik arah menghindari razia tersebut. Bisa ditebak kenapa. Mungkin ada surat kelengkapan kendaraan mereka yang tak lengkap. Alhamdulillah,punyaku semua lengkap. Jadi kenapa takut. Aku melaju dengan tenang. Tak di tilang.
Tiba di rumah, aku melepas sepatu dan helm. Kemudian langsung menuju dapur untuk mengisi perut. Sedap, pindang jamur tiram. Kunyalakan televisi sembari makan. Kupilih TV one dengan acara Coffe Break. Aku tergelak lewat acara tersebut. Temanya adalan Fingerprint. Fingerprint , kataku dalam hati. Apa tuh? Oh, menganalisa karakter dan kepribadian lewat sidik jari. Menarik.
Selesai makan aku tak menunggu duduk dulu. Takut jam istirahat sudah hampir habis. Aku pamit dnegan Ibu untuk berangkat ke sekolah lagi. Tibalah lagi aku di kawasan razia. Polisi satu, lewat, polisi 2, lewat, polisi tiga, aku diberi tanda lima jari. STOP. Aku menepi.
“selamat siang BU, maaf mengganggu perjalanan anda sejenak. Kami sedang melakukan pemeriksaan ketertiban lalu lintas. Silahkan matikan motor Ibu terlebih dahulu”. Aku menurut. “bisa lihat STNK dan SIM-nya?” aku merogoh dompetku dan tak lama kuserahkan surat yang diminta. Sudah berapa lama anda bermotor, anda tahu ketertiban lalu lintas? Apa anda tidak memperhatika pengemudi yang lain? Berarti anda apatis. Anda kami tilang. Aku melongo seperti sapiompong, sedikit sih. Kemari Mbak. Aku kesal, bingung, merasa dilecehkan. Aku menyeberang.
“Nggak ada lampu, ya Mbak?”. Polisi yang lain bertanya.
“ada,” aku menjawab sepolosnya. Kenapa nggak dihidupin Mbak.
“saya nggak tahu kalo musti dihidupin Pak” inikan siang, kataku dalam hati.
Anda kami tilang.
“kenapa pak?”
“Karena anda tidak menghidupkan lampu”
“Mestinya kasih tahu dulu Pak, kok langsung nilang aja”
“eh, Mbak sosialisasinya udah Mbak dari 2010 kemarin